top of page

Juni di Korea adalah “Bulan Solidaritas Queer Palestina”

12 jam yang lalu
4 menit membaca

Kami menyampaikan kabar dari QK48, Solidaritas Queer Palestina, yang berupaya menuliskan kembali bulan Juni sebagai “praktik perjuangan yang meruntuhkan semua tembok”.

  • Penerjemah bahasa Indonesia: Payung

  • Pemeriksa bahasa Indonesia: -

  • Penulis bahasa asal: 권태

  • Pemeriksa bahasa asal: Miguel

  • Dipostingkan oleh: Miguel

  • Didesain oleh: 가리


*Artikel ini ditulis sekitar bulan Juli lalu, tetapi penerbitannya tertunda karena alasan internal.


Pada musim panas tahun 2024, melalui media kami, kami memperkenalkan “Solidaritas Palestina oleh komunitas Queer dan minoritas seksual Korea” dan menyampaikan bahwa komunitas minoritas seksual di Korea sedang melakukan berbagai aksi kolektif untuk meningkatkan kesadaran kritis terhadap pinkwashing dan membangun solidaritas dengan Palestina.


Hingga saat ini, di Korea masih aktif jaringan para aktivis yang bersolidaritas dengan queer Palestina, yaitu QK48 – Solidaritas Queer Palestina (tautan: https://x.com/_QK48). Pada Juni 2026, QK48 menuliskan kembali bulan Juni—yang lazim disebut sebagai Bulan Kebanggaan (Pride Month)—menjadi “Bulan Solidaritas Queer Palestina”, dan merilis sebuah pernyataan berjudul “Bulan Kebanggaan yang Menyebalkan karena Gagal Menghentikan Genosida”. Teks lengkap pernyataan tersebut juga dipublikasikan dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab melalui akun Instagram QK48 (tautan: https://www.instagram.com/qk48_2025/). Melalui tulisan ini, kami menyampaikan pernyataan solidaritas mereka yang berupaya menuliskan kembali bulan Juni sebagai “praktik perjuangan yang meruntuhkan semua tembok”, sekaligus memperkenalkan kabar mengenai gerakan solidaritas queer Palestina di Korea.


*Saat ini, QK48 terdiri dari berbagai organisasi dan individu yang bergabung bersama, termasuk Komite Minoritas Seksual Partai Buruh Korea, Festival Film HAM Seoul, Solidaritas Perdamaian Palestina, Chingusai (Kelompok Hak Asasi Gay Korea), Solidaritas Aksi Hak Asasi Minoritas Seksual, dan berbagai kelompok serta individu lainnya.



Teks alternatif: Lokasi konferensi pers penyampaian pernyataan solidaritas Bulan Solidaritas Queer Palestina. Di depan gedung Kedutaan Besar Israel di Korea Selatan, para aktivis memegang bendera dari berbagai organisasi sambil mengenakan kaus bergambar bendera Palestina dan Pride Flag secara berdampingan, serta mengangkat tangan kanan mereka dengan kepalan tangan ke atas. Banyak bendera berwarna pelangi terlihat di lokasi, dan di barisan paling depan terdapat spanduk berwarna merah. Teks pada spanduk ditulis dengan huruf hitam bergaya tegas yang memberikan kesan serius: “Bulan Kebanggaan yang Menyebalkan karena Gagal Menghentikan Genosida.” Di bagian atas dan bawah spanduk tercantum informasi mengenai konferensi pers tersebut. (Sumber: Solidaritas Perdamaian Palestina. Fotografer: Yang Seung-uk. https://pal.or.kr/wp/another-fucked-up-pride-month-another-failure-to-end-the-genocide/)
Teks alternatif: Lokasi konferensi pers penyampaian pernyataan solidaritas Bulan Solidaritas Queer Palestina. Di depan gedung Kedutaan Besar Israel di Korea Selatan, para aktivis memegang bendera dari berbagai organisasi sambil mengenakan kaus bergambar bendera Palestina dan Pride Flag secara berdampingan, serta mengangkat tangan kanan mereka dengan kepalan tangan ke atas. Banyak bendera berwarna pelangi terlihat di lokasi, dan di barisan paling depan terdapat spanduk berwarna merah. Teks pada spanduk ditulis dengan huruf hitam bergaya tegas yang memberikan kesan serius: “Bulan Kebanggaan yang Menyebalkan karena Gagal Menghentikan Genosida.” Di bagian atas dan bawah spanduk tercantum informasi mengenai konferensi pers tersebut. (Sumber: Solidaritas Perdamaian Palestina. Fotografer: Yang Seung-uk. https://pal.or.kr/wp/another-fucked-up-pride-month-another-failure-to-end-the-genocide/)

Selama ini, organisasi-organisasi hak asasi minoritas seksual di Korea telah menyelenggarakan aksi “Aksi Darurat Masyarakat Sipil Korea untuk Mengecam Genosida di Jalur Gaza” setiap dua minggu sekali, sambil terus mencari berbagai cara untuk berdiri bersama queer Palestina. Pada Sabtu, 11 Juli, diselenggarakan Aksi Darurat ke-71. Pada 20 Juni, kelompok-kelompok solidaritas Palestina dan para DJ berkumpul untuk mengadakan rave-aksi bertajuk “Kebanggaan untuk Palestina: Perjuangan dan Keributan”. Sementara itu, pada 4 Juni, dilakukan aksi boikot terhadap “Pompidou Center Hanwha”, sebuah fasilitas pameran budaya yang dibuka oleh Hanwha, perusahaan industri pertahanan terkemuka Korea yang diduga memiliki keterkaitan dengan industri militer Israel. Selain itu, berbagai aksi lain juga terus berlangsung, seperti membaca bersama karya terbaru penulis Palestina, membagikan tulisan para aktivis Palestina, dan membangun keterhubungan dengan Gaza. Di saat yang sama, gerakan-gerakan tersebut juga menuntut pertanggungjawaban negara atas keterlibatan dalam genosida, termasuk terhadap lembaga seperti Korea National Oil Corporation, sambil mengecam bahwa masyarakat Korea juga turut terlibat dalam struktur yang memungkinkan genosida tersebut berlangsung. Seluruh informasi ini merujuk pada situs web Solidaritas Perdamaian Palestina.


Sementara itu, dalam Konferensi Pers Penyampaian Pernyataan Bulan Solidaritas Queer-Palestina 2026 yang diselenggarakan QK48 pada 18 Juni, berbagai pernyataan solidaritas disampaikan dengan mempertanyakan makna “Queer Pride” di tengah zaman yang ditandai oleh genosida dan perang. Di antara berbagai pernyataan tersebut, kami ingin memperkenalkan pidato penulis Choi Hyun-sook. Choi Hyun-sook adalah aktivis senior dalam masyarakat Korea, politikus progresif pertama yang secara terbuka melakukan coming out dan mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Nasional, aktivis anti-kemiskinan, sekaligus penulis yang “mengerjakan proyek sejarah hidup lisan bersama orang-orang yang tersingkir dari neoliberalisme dan masyarakat yang berpusat pada keluarga.” Dalam pidato kali ini, Choi Hyun-sook mempertanyakan kembali makna Queer Pride di era yang terus diwarnai oleh genosida, perang, dan keterlibatan berbagai pihak dalam kekerasan tersebut. Untuk membaca pernyataan solidaritas dari Choi Hyun-sook dan para aktivis lainnya, serta pernyataan resmi QK48, silakan merujuk pada tautan berikut:



*Pengantar mengenai penulis Choi Hyun-sook merujuk pada proyek “To My Comrades: I am Writing to You” dari W/O F. (Creative Group Woof). Tulisan yang melibatkan Choi Hyun-sook dalam proyek tersebut dapat dibaca melalui tautan berikut (tersedia juga dalam bahasa Inggris): https://iamwritingtoyou.com/choi-hyunsook


Kami juga mengajak Anda mengunjungi situs web proyek tersebut, yang dengan ketekunan nyaris tanpa henti terus berbicara tentang queer dan mempertanyakan queer, untuk menikmati berbagai karya yang tersedia di sana: https://iamwritingtoyou.com/about



“‘Queer’ adalah cara berada yang melawan dan membangkang terhadap produktivitas dan kenormalan, familisme, serta orientasi pada masa depan. Di dunia tempat semua orang menaiki ban berjalan, moving walk, dan eskalator satu arah menuju kemajuan dan masa depan, bahkan terus berlari di atasnya, queer adalah keputusan untuk berhenti, berbalik arah, dan memilih kemunduran serta kejatuhan. Ia adalah sikap dan praktik yang, dengan menghadapi mereka yang menindas kita dan sistem yang menopang penindasan itu, merangkul kehilangan dan kematian sambil membuka tatanan dan kemungkinan yang lain. Dalam masyarakat neoliberal, justru ‘ketidakbergunaan’ merupakan cara berada yang anti-kapitalistik. Kehidupan yang secara sukarela memilih ketidakbergunaan itu, dan menanggung kejatuhan serta kegagalan, adalah kehidupan yang queer. Dalam proses itu, seseorang menanggung depresi dan rasa tak berdaya, kecemasan dan ketakutan yang tak terelakkan; namun tetap saja, berulang kali membakar tempat berpijaknya sendiri dan pergi meninggalkannya, lalu menemukan dirinya sebagai liyan yang baru di tempat yang asing. Tanpa optimisme maupun pesimisme, ia melemparkan dirinya ke dalam kekacauan. Sambil terus-menerus membangkang terhadap apa yang mereka sebut harapan dan masa depan, ia hidup dan mati dengan menikmati kegilaan yang hanya diketahui oleh mereka yang membeli kebebasan melalui kegagalan. Wilayah yang sejati bukanlah tempat, melainkan sikap keberadaan. Marilah kita memuat tanah bernama Palestina di dalam diri kita—penindasan dan kepedihan Palestina, perjuangan dan kematiannya—seraya mengikuti mereka yang lebih dahulu menghilang di sisi kita, mereka yang lebih dahulu jatuh, dan memilih agar kita pun menghilang di tengah perjalanan. Bersama mereka yang tersingkir, marilah kita secara konkret mengorganisir dan menciptakan keributan dan kekacauan, huru-hara dan pemberontakan; dan sambil sebisa mungkin bersenang-senang, makan, menari, serta berjuang bersama, marilah kita kemudian menghilang.”





  • Penerjemah bahasa Indonesia: Payung

  • Pemeriksa bahasa Indonesia: -

  • Penulis bahasa asal: 권태

  • Pemeriksa bahasa asal: Miguel

  • Dipostingkan oleh: Miguel

  • Didesain oleh: 가리



Komentar


bottom of page