top of page

Ke Mana Perginya Gerakan Queer di Daerah?

  • 2 hari yang lalu
  • 8 menit membaca

Tulisan ini merupakan versi suntingan dan terjemahan dari artikel "Ke Mana Perginya Gerakan Queer di Daerah?" yang ditulis oleh Mori dan diterbitkan dalam jurnal Perkumpulan Kajian Minoritas Seksual/Queer Korea. Artikel ini mengajak pembaca untuk merefleksikan makna gerakan minoritas seksual di daerah dalam masyarakat Korea yang sangat terpusat pada Seoul.

  • Penerjemah bahasa Indonesia: Payung

  • Pemeriksa bahasa Indonesia: -

  • Penulis bahasa asal: Miguel

  • Pemeriksa bahasa asal: -

  • Dipostingkan oleh: Miguel

  • Didesain oleh: 가리


Di berbagai belahan dunia, sumber daya bagi gerakan minoritas seksual—seperti pendanaan, sumber daya manusia, maupun ruang diskursus—sering kali terkonsentrasi di satu wilayah tertentu. Ketimpangan semacam ini menyebabkan terpinggirkannya daerah di luar pusat, mendorong perpindahan orang ke pusat, dan pada akhirnya semakin memperkuat konsentrasi tersebut. Namun, di tengah situasi itu, tetap ada orang-orang di berbagai daerah yang terus memikirkan serta mewujudkan makna gerakan minoritas seksual di komunitas mereka masing-masing.


Tulisan ini merupakan versi suntingan dan terjemahan dari artikel "Ke Mana Perginya Gerakan Queer di Daerah?" yang ditulis oleh Mori dan dimuat dalam edisi ke-4 majalah web Ruang dan Wilayah Queer, yang diterbitkan pada Maret 2026 oleh Perkumpulan Kajian Minoritas Seksual/Queer Korea. Artikel ini membahas makna gerakan minoritas seksual di daerah dalam konteks masyarakat Korea yang segala sesuatunya sangat terpusat di Seoul. Demi menyesuaikan dengan tujuan proyek kami, naskah ini telah mengalami beberapa penyuntingan. Untuk membaca naskah lengkap dalam bahasa Korea, silakan klik tautan berikut.


Bagian berikut telah disunting. Dalam naskah aslinya, penulis memperkenalkan berbagai kegiatan Hongyedang, sebuah platform budaya queer di Busan, sekaligus membahas makna dan kondisi terkini gerakan queer di daerah. Informasi mengenai Hongyedang, yang menyelenggarakan beragam kegiatan lokal seperti toko buku queer, kelompok komunitas, dan layanan sosial, dapat ditemukan melalui situs web resminya (tersedia hanya dalam bahasa Korea).




Kondisi Gerakan Queer di Daerah yang Berbeda dari Seoul

Setelah berpindah dari organisasi queer di Seoul dan mulai berkegiatan di Busan, barulah saya menyadari berbagai hal yang sebelumnya tidak terlihat. Masalah pemusatan di wilayah metropolitan juga tidak luput memengaruhi gerakan queer. Meskipun Busan disebut sebagai "kota terbesar kedua", pada dasarnya ia tetap bukan Seoul, sehingga menghadapi kondisi yang serupa dengan kota-kota daerah lainnya. Ada beberapa perbedaan mendasar antara gerakan queer di Seoul dan gerakan queer di daerah.


Pertama, tidak ada, atau sangat lemahnya, struktur yang memungkinkan aktivis untuk berkembang. Meskipun gerakan queer di Seoul juga sulit dikatakan memiliki sistem pembinaan aktivis yang benar-benar "dirancang", di Seoul para anggota berbagai organisasi queer dapat secara alami mempelajari pengetahuan mengenai isu-isu queer dan keterampilan praktis berorganisasi melalui kegiatan internal organisasi maupun kegiatan eksternal seperti aksi unjuk rasa dan kampanye. Mereka juga dapat memperluas jaringan dengan berbincang bersama aktivis senior dan rekan-rekan dalam acara makan atau minum bersama setelah kegiatan. Selain itu, mereka relatif mudah mengikuti berbagai diskusi atau forum seperti Forum Hak Asasi Manusia Minoritas Seksual untuk mengenal perdebatan terkini mengenai hampir seluruh isu dalam gerakan queer. Sebaliknya, kesempatan seperti itu sulit ditemukan di Busan. Tidak ada organisasi yang dapat menjadi basis pembelajaran dan pengembangan aktivis, hampir tidak ada aksi queer, tidak ada aktivis queer senior yang dapat diajak berbagi kegelisahan sambil minum bir setelah kegiatan, dan juga tidak ada Forum Hak Asasi Manusia Minoritas Seksual. (...) Dengan kata lain, pertumbuhan aktivis yang dapat berlangsung secara "alami" di Seoul tidak mudah terwujud di daerah.


Kedua, sulit menjalankan kegiatan dengan cara yang sama seperti organisasi queer di Seoul. Majelis Nasional, Kantor Kepresidenan, partai politik, media, dan ruang pembentukan wacana semuanya terkonsentrasi di Seoul. Sebagai contoh, apabila hendak mendorong legalisasi pernikahan sesama jenis dari daerah, sulit membayangkan apa yang dapat dilakukan secara "mandiri" oleh para aktivis daerah. Mereka tentu dapat bekerja sama dengan Pernikahan untuk Semua yang berkegiatan di tingkat pusat dan mengambil peran pendukung. Namun, pendekatan seperti itu tetap menuntut lahirnya bentuk gerakan baru yang berbeda dari model gerakan di Seoul. Selain itu, kegiatan advokasi yang lebih menekankan makna daripada kesenangan berpartisipasi berisiko lebih mudah menyebabkan kelelahan aktivis, mengingat kapasitas organisasi gerakan queer di daerah masih terbatas. Akibatnya, gerakan lokal yang telah susah payah dibangun justru dapat kembali ke titik awal. Yang lebih mendasar lagi, sejak awal pun sulit menemukan aktivis di daerah yang telah berkembang hingga mampu menangani isu-isu kebijakan atau advokasi secara serius.


Ketiga, sulit menjamin stabilitas keuangan. Banyak organisasi queer di daerah bahkan belum mencapai tahap merekrut donatur tetap. Kalaupun sudah membuka program donasi berkala, hampir tidak ada organisasi yang mampu menjalankan kampanye penggalangan dana secara aktif. Hal ini terutama karena sebagian besar organisasi tidak memiliki staf tetap yang digaji sehingga energi mereka habis untuk menangani berbagai pekerjaan mendesak lainnya. (...) Pertumbuhan organisasi masyarakat sipil yang bergantung pada donasi umumnya dibangun melalui siklus yang saling memperkuat antara kegiatan–publikasi–penggalangan dana. Organisasi menjalankan berbagai kegiatan, mempublikasikan kegiatan tersebut secara efektif, lalu memanfaatkan publikasi itu untuk menggalang dana sehingga memperoleh sumber daya yang memungkinkan mereka memperluas kegiatan. Namun, organisasi queer di daerah yang seluruh anggotanya merupakan relawan tidak berbayar umumnya tidak memiliki kapasitas yang cukup. Akibatnya, mereka sering kali hanya mampu berfokus pada kegiatan tanpa sempat melakukan publikasi secara memadai, atau sebaliknya aktif mengunggah informasi kegiatan tetapi tidak mencantumkan ajakan untuk menjadi donatur tetap. Memang benar bahwa kondisi keuangan organisasi queer di Seoul juga tidaklah baik, tetapi perbedaan antara memiliki atau tidak memiliki satu orang staf tetap yang digaji sangatlah besar.


Apakah Gerakan Queer di Daerah Diperlukan?

Ketika para aktivis queer dari berbagai daerah berkumpul, tidak jarang percakapan berujung pada ungkapan kekecewaan terhadap "orang-orang Seoul". Misalnya, muncul komentar seperti, "Aktivis di Seoul tidak peduli pada gerakan queer di daerah," "Mereka hanya datang ke daerah saat ada festival queer," "Mereka hanya datang ke Busan untuk acara MT (retret anggota), tetapi mengira sudah menjalankan program untuk daerah," atau "Saat pandemi mereka sering mengadakan acara lewat Zoom, tetapi setelah pandemi berakhir semuanya berhenti." Namun, keluhan-keluhan itu hampir selalu berakhir sebagai sekadar curahan hati. Para aktivis daerah juga memahami bahwa aktivis di Seoul bekerja dalam kondisi yang tidak kalah sulit dan dibebani pekerjaan yang sangat berat. Karena itu, mereka pun ragu untuk menuntut lebih banyak dukungan. Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan para aktivis di Seoul terhadap gerakan di daerah? Ini memang hanya dugaan pribadi, tetapi saya rasa anggapan bahwa "aktivis di Seoul tidak peduli pada gerakan queer di daerah" tidak sepenuhnya keliru. Setidaknya, ketika saya masih aktif di Seoul, saya sendiri berpikir demikian. Dibandingkan berbagai kegiatan yang saya anggap "lebih penting" di Seoul, gerakan queer di daerah terasa memiliki prioritas yang lebih rendah. Lagi pula, karena jarak yang jauh, saya merasa tidak banyak yang dapat saya lakukan. Ketika mendengar usulan agar pertemuan anggota juga diadakan di daerah, pikiran pertama saya justru, "Memang akan bagus kalau dilakukan, tetapi sekarang saya sudah terlalu lelah." Saya merasa seolah-olah akan dibebani satu tanggung jawab lagi, dan rasa bersalah yang muncul karena tidak mampu melakukannya terkadang justru terasa tidak adil.


Kini, setelah berkegiatan di Busan dan menjadi salah satu orang yang mengungkapkan kekecewaan terhadap "orang-orang Seoul", saya sendiri pun sering ragu untuk meminta para aktivis di Seoul mengalokasikan lebih banyak sumber daya bagi gerakan di daerah. Seperti telah saya jelaskan sebelumnya, salah satu alasannya adalah saya tahu mereka juga memiliki keterbatasan. Namun, alasan yang lebih mendasar adalah karena saya sendiri belum memiliki jawaban yang meyakinkan dan terumuskan dengan baik mengenai pertanyaan, "Mengapa gerakan queer di daerah diperlukan?" Tentu saja, hal ini bukan berarti gerakan di daerah tidak diperlukan atau tidak penting. Sebaliknya, agar situasi yang buntu—di mana kedua belah pihak hanya menyimpan rasa kecewa dan rasa bersalah—dapat diatasi, diperlukan kesadaran bersama bahwa menghidupkan gerakan queer di daerah sama pentingnya dengan berbagai kegiatan "utama" yang dilakukan di Seoul. Dari kesadaran bersama itulah kerja sama yang bersifat sukarela seharusnya dapat dibangun. Namun, dalam sejarah gerakan queer di Korea yang relatif singkat, belum pernah ada perumusan yang jelas mengenai peran penting apa yang dapat dimainkan oleh gerakan queer di daerah. Padahal, tanpa adanya peran yang jelas, sulit bagi orang untuk memiliki harapan, apalagi menaruh perhatian. (...)


Mencari Peran Gerakan Queer di Daerah

(...)


Pertama, membangun komunitas merupakan hal yang paling awal harus dilakukan apabila ingin memulai gerakan di daerah. Salah satu alasan praktisnya adalah karena pada tahap awal organisasi hampir tidak dapat dihindari harus dijalankan melalui partisipasi sukarela banyak orang tanpa staf tetap yang digaji. Selain itu, sebuah komunitas akan menjadi lebih hidup ketika dihuni oleh orang-orang dengan latar belakang dan minat yang beragam. Apabila komunitas tersebut dirancang dengan baik sehingga mampu menjawab berbagai kekurangan yang selama ini dirasakan oleh komunitas queer di daerah—misalnya, mengatasi kehampaan yang sering muncul dalam komunitas yang dibentuk semata-mata untuk bersosialisasi tanpa adanya konten atau minat bersama—maka komunitas itu akan mampu mengorganisasi partisipasi banyak orang yang selama ini membutuhkan sebuah "ruang aman".


(...)


Kedua, dalam penyediaan layanan, gerakan queer di daerah juga memiliki peran yang sangat besar. Organisasi seperti Kelompok Orang Tua Minoritas Seksual, yang menyediakan kelompok dukungan terkait coming out, maupun Pusat Dukungan Remaja Minoritas Seksual DDing Dong, yang mendampingi remaja minoritas seksual, merupakan organisasi yang paling merasakan perlunya pengembangan program di daerah. Apabila terdapat organisasi lokal yang memiliki sumber daya manusia, ruang kegiatan, dan jaringan di daerah, maka program-program tersebut dapat jauh lebih mudah dijalankan melalui skema pelimpahan tugas maupun kerja sama. Dari sudut pandang organisasi daerah sendiri, kolaborasi dengan organisasi tingkat pusat juga sangat membantu keberlangsungan organisasi karena dapat meningkatkan akses terhadap keahlian yang masih kurang di daerah, pendanaan program, efek publikasi, serta kesempatan memperluas jaringan. (...)


Selanjutnya, pada tingkat daerah, berbagai kegiatan dapat difokuskan antara lain pada respons terhadap peraturan daerah mengenai hak asasi manusia maupun terhadap tindakan administratif yang bersifat diskriminatif berkaitan dengan penyelenggaraan festival budaya queer di daerah. Persoalan-persoalan semacam ini hanya dapat ditangani secara memadai apabila gerakan queer benar-benar hadir dan hidup di lapangan. Oleh karena itu, keberadaan gerakan queer di daerah memiliki arti yang sangat penting. (...)


Keempat, kegiatan di bidang akademik, kehidupan sehari-hari, budaya, dan seni justru merupakan ranah di mana gerakan queer di daerah dapat mengambil peran sebagai penggerak utama sekaligus memperluas basis keseluruhan gerakan queer. Karena letaknya yang secara geografis jauh dari pusat gerakan, organisasi daerah justru dapat lebih bebas dari berbagai tanggung jawab yang selama ini dipikul oleh gerakan di tingkat pusat. Ketika organisasi pusat bahkan kesulitan menjalankan kegiatan yang bersifat "langsung", seperti advokasi legislasi maupun penanganan kasus pelanggaran hak asasi manusia, gerakan queer di daerah justru dapat mengembangkan bentuk-bentuk kegiatan yang lebih "tidak langsung". Dengan menghadirkan keberadaan queer dalam berbagai bidang seperti akademik, kehidupan sehari-hari, budaya, dan seni, gerakan di daerah dapat memperluas jangkauan gerakan queer hingga ke ruang-ruang yang selama ini belum banyak tersentuh oleh gerakan yang sudah ada.


(...)



Tidak Masuk Akal Jika Menjadi Queer Berarti Harus Tinggal di Seoul

Mungkin ada orang yang merasa cocok hidup di Seoul, tetapi saya bukan salah satunya. Sejak pindah ke Seoul pada usia dua puluh tahun, selama sepuluh tahun saya selalu merasa hidup sebagai seorang pendatang. Yang terlihat dari jendela bus hanyalah lingkungan yang asing. Langit hampir setiap hari tampak kelabu karena debu halus, dan kereta bawah tanah selalu dipenuhi orang. Setiap kali melewati Jalan Gangnam, deretan gedung-gedung raksasa di kedua sisinya terasa begitu ganjil. Sungai Han pun bagi saya tidak lebih dari sebuah saluran air yang sangat besar. Suatu hari ketika mendaki Gunung Inwangsan, saya justru merasa tempat itu begitu semrawut dan terlalu duniawi. Seoul bahkan tidak memiliki laut. Setidaknya bagi saya, Seoul bukanlah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Karena itu, gagasan bahwa seseorang harus tinggal di Seoul hanya karena ia seorang queer terasa sangat menjengkelkan. Saya ingin tinggal di tempat yang memang ingin saya tinggali, dan saya berharap di tempat itu juga ada gerakan queer. Gerakan queer sebagai komunitas yang membangun penerimaan diri dan saling merawat; sebagai jaring pengaman sosial terpenting yang dapat dimiliki seorang queer; sebagai titik awal untuk melepaskan diri dari ketidakberdayaan yang telah terinternalisasi dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam hidup. Dalam semua makna itu, gerakan queer juga diperlukan di daerah.





  • Penerjemah bahasa Indonesia: Payung

  • Pemeriksa bahasa Indonesia: -

  • Penulis bahasa asal: Miguel

  • Pemeriksa bahasa asal: -

  • Dipostingkan oleh: Miguel

  • Didesain oleh: 가리



Komentar


bottom of page